Sabtu, 13 November 2010

Gurubesar Ilmu Politik UI: Tifatul Itu MPO Alias Mencari Perhatian Orang

RMOL. Insiden salaman Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dengan Michelle Obama di Istana Negara pada Selasa lalu ramai diberitakan media internasional. Peristiwa salaman ini menjadi menarik karena Tifatul mengaku terpaksa bersalaman karena tangan first lady telah terlalu maju ke depan.

The Associated Press (AP), Yahoo! News, Washington Post, Huffington Post. Chicago Tribune, dan Newser menurunkan berita mengenai insiden itu dengan judul mencibir Tifatul.


Pengamat politik Iberamsyah mengatakan, hebohnya pemberitaan itu lantaran Tifatul terlalu sibuk dengan twitter dan facebook. Kalau saja Tifatul tidak mengaku dan berdalih terpaksa, tentu berita itu tidak ada seheboh sekarang.

“Tifatul itu MPO, alias mencari perhatian orang. Sibuk membuat klarifikasi dan membela diri, padahal kenyataannya memang dia yang mau salaman,” kata Gurubesar Ilmu Politik Universitas Indonesia ini kepada Rakyat Merdeka Online, malam ini (Sabtu, 13/11).

Harusnya, lanjut Iberamsyah, sebagai seorang menteri, Tifatul bisa bersikap profesional dan proposional. Artinya, dia harus bisa menempatkan dirinya dengan baik, tidak berlebihan. Tifatul juga jangan terlalu banyak main twitter atau facebook.

“Mestinya dia kerja dengan baik. Berikan karya nyata, apa yang sudah dikerjakan selama satu tahun ini. Bukan cuma bisanya nulis sesuatu yang bikin kontroversi saja,” tukasnya.

Iberamsyah menuding, saat ini Tifatul telah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai Menkominfo. Tugas utama Menkominfo, kata Iberamsyah, adalah memberikan penerangan kepada masyarakat mengenai kebijakan yang dibuat pemerintah. Sehingga tidak ada ketimpangan informasi.

Iberamsyah menambahkan, selama ini Tifatul terlalu berlebihan dalam bersikap. Menurutnya, salaman adalah hal biasa. Setiap orang boleh bersalaman dengan siapa saja, tanpa harus dibeda-bedakan. Nah, yang terjadi kemarin itu karena Tifatul membeda-bedakan orang.

“Seharusnya, kalau memang nggak mau salam, ya jangan diterima. Beri saja isyarat dengan mengacungkan tangan atau yang lainnya. Jangan membeda-bedakan begitu,” tandasnya. [zul]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar